Modul Budidaya Nilam Aceh
MODUL PRAKTIS
BUDIDAYA NILAM ACEH
(Pogostemon Cablint Bent)
2
KATA PEGANTAR
Tanaman Nilam Aceh (Pogostemon cablin Bent) merupakan kelompok
tanaman penghasil minyak atsiri, mempunyai prospek yang baik karena di
samping harganya tinggi, juga sampai saat ini minyaknya belum dapat dibuat
dalam bentuk sintesis. Minyak nilam memberikan sumbangan cukup besar
dalam penghasil devisa Negara di antara minyak atsiri lainnya. Namun
produksi minyak Nilam di Indonesia masih terbatas dan produksinya belum
optimal. Minyak nilam merupakan komoditi ekspor non migas. Minyak nilam
ini sudah popular di kancah internasional namun tidak demikian halnya di
Indonesia ditandai dengan masih sedikitnya petani yang membudidayakan
atau berkebun nilam. Padahal minyak nilam ini merupakan prospek bisnis
yang menjanjikan karena ditingkat internasional minyak nilam ini diminati
oleh beberapa Negara. Minyak nilam digunakan sebagai bahan pengikat
aroma dalam industri minyak wangi (parfum) dan digunakan dalam industri
kosmetik lainnya. Nilam biasanya diekspor dalam bentuk minyak atsiri kasar
(crued oil) atau yang telah dimurnikan (heavy fraction and light fraction).
Negara tujuan ekspor nilam antara lain adalah Singapura, Amerika Serikat,
Spanyol dan Prancis
Aceh merupakan salah satu daerah yang sangat potensial untuk
dikembangkan tanaman nilam karena letak geografisnya yang sangat cocok.
Aceh sudah menjadi produsen nilam terbesar sejak tahun zaman penjajahan
belanda. Beberapa keunikan nilam aceh diatara kadar patchouli oil yang ratarata
mencapai diatas 30 persen nilai keasaman yang rendah dan jumlah
rendemen (hasil suling) mencapai 2-3 persen. Minyak hasil produksi dari
nilam aceh (Pogestemon cablin Benth) di Sumatra di anggap memiliki
kualitas paling bagus.
Peningkatan kualitas minyak nilam sebagai bahan ekspor yang
memiliki devisa Negara ini perlu ditingkatkan produksinya. Peningkatan
produk sangat ditentukan oleh teknik budidaya nilam oleh petani. Mudah
mudahan buku ini dapat bermanfaat bagi petani nilam Aceh khususnya dan
masyarakat Indonesia pada umumnya yang ingin mengetahui tentang
teknologi budidaya nilam Aceh.
3
NILAM ACEH
Ada beberapa sub-varietes tanaman nilam di Aceh yang paling utama
adalah nilam Tapaktuan di Aceh selatan, nilam Lhokseumawe (Aceh
Utara), dna nilam Sidikalang (Sumatra Utara) dan Nilam Palsu. Mereka
masing-masing memiliki karekteristek fisik dan kandungan kimiawi yang
berbeda. Nilam Tapaktuan memiliki kemampuan adaptasi yang tiggi, batang
berwaran hijau dengan sedikit warna ungu. Nilam Lhoksemamawe juga
mimiliki daya adaptasi dan warana batang ungu. Varietas Sidikalang memiliki
daya adaptasi yang tinggi dan batangnya ungu gelap. Tingkat PA dari varietas
ini berbeda dan satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri,
namun untuk Nilam palsu jangan dibudidayakan.
Varitas Lhokseumawe Varitas Sidikalang
Varitas Tapak Tuan Nilam Palsu
Sumber Gambar : Doc pribadi dan internet
4
Ada perbedaan fisik pada Keempat varietas dari segi warna dan bentuk daun
dan aroma, Diantara ketiga jenis nilam tersebut yang banyak dibudidayakan
sekarang di Provinsi Indonesia adalalah yang variteas Lhokseumawe atau
Pogostemon cablin Benth (nilam Aceh), karena kadar dan kualitas
minyaknya lebih tinggi dan lebih tahan dari pada penyakit di bandingkan dari
varietas lainnya. Maka dari semua varietas perlu diperhatikan untuk
meningkatkan produktivitas terna dan minyak nilam perlu dilakukan caracara
budidaya, panen dan pasca panen yang baik dan benar. Buku petunjuk
lapangan Teknologi Agribisnis Nilam ini memberikan informasi-informasi
tersebut. Harapannya buku ini bisa digunakan petani dan penyuluh lapangan
dalam memahami dan menerapkan teknologi budidaya sampai pascapanen
nilam secara baik dan benar.
Kunci Sukses Meunilam :
“Ngon but bek jioh”
“Asoe prut bek putoh”
“Alat beu kukoh“
“Ngon inong bek kiroh “
5
I. SYARAT TUMBUH
Tanaman nilam dapat tumbuh dan berproduksi baik pada daerah dengan ketinggian 0-
1.200 m di atas permukaan laut (dpl). Namun dia akan tumbuh dan berproduksi
optimum pada daerah dengan ketinggian 10-400 m dpl. Curah hujan yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan tanaman nilam 2.300 - 3.000 mm/tahun. Suhu udara antara 24-28
C dengan kelembaban di atas 75%. Intensitas penyinaran untuk produksi minyak nilam
optimal berkisar 75-100%. Tanaman nilam menghendaki tanah yang subur dan gembur,
membutuhkan banyak air, tetapi tidak tahan genangan air, karena itu perlu dibuat
drainase (pengairan) yang baik dan dapat menahan air. Tanaman ini menghendaki tanah
bertekstur lempung sampai liat berpasir, dengan pH 5,5- 7.
Lahan Miring Lahan Datar
6
II. PEMBIBITAN
Beberapa syarat dalam menentukan bibit yaitu sebagai berikut:
1. Tanaman induk harus sehat, bebas dari hama dan penyakit.
2. Tanaman induk harus berumur sekitar 6 – 7 bulan dan harus dipilih
cabang-cabang yang muda dan sudah berkayu serta mempunyai ruas-ruas
pendek.
3. Pisau pemotong harus tajam, bersih dan steril; waktu pemotongan pada
pagi atau sore sampai malam hari dan cara memotong meruncing.
4. Panjang stek antara 20 – 30 cm, dan mempunyai minimum 3-4 mata tunas,
sehingga satu tanaman induk dapat diperoleh sekitar 40 – 60 setek bibit.
5. Setek harus segera disemaikan sebelum layu dan mengering.
6. pakai perangsang akar agar tumbuh lebih bagus dan cepat.
7
III. PENYIAPAN LAHAN
Persiapan lahan dilakukan sebelum atau bersamaan dengan persiapan
pesemaian bibit agar tanah terjaga dari gulma yang membesar atau tanah yang
menjadi keras kembali.
Tahapan-tahapan persiapan lahan yaitu :
a. Pengolahan lahan dimulai 1-2 bulan sebelum tanam sampai kedalaman
minimal 30 cm . Nilam berakar serbut yang panjangnya sekitar 30-35 cm.
Setelah itu lahan didiamkan selama beberapa hari.
b. Pengapuran diberikan apabila tanah nya bersifat asam (pH≤5,5) dengan
takaran 1-2 ton kaptan/ha;
c. Bila lahan mudah tergenang air dibuat saluran pembuangan air (drainase)
selebar 30-40 cm, dalam 50 cm, untuk mencegah dan mengantisipasi
penyebaran penyakit;
d. Bedengan dibuat setinggi 20-30 cm, lebarn 1-1,5m sedangakan
panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan atau kebutuhan. Jarak antar
bedengan dibuat selebar 40-50cm;
e. Pembuatan lubang tanam dilakukan 1 minggu sebelum waktu tanam
dengan ukuran 30x30x30cm;
f. Pupuk oraganik (pupuk kandang, kompos ) diberikan pada lubang tanam
sebanyak 1-2 kg/lubang pada 1-2 minggu sebelum tanam.
8
IV. PENANAMAN BIBIT
Gambar di atas merupakan beberpa jenis cara penanaman nilam dan stek bibit
nilam yang ditanam langsung dikebun tingkat kematiannya lebih tinggi dibandingkan
dengan pesemaian dari polibag. Untuk itu dianjurkan agar dilaksanakan pesemaian lebih
dahulu sebelum ditanam dilapangan, hal ini untuk menghindari kematian stek bibit
sekaligus mempermudah perakarannya.
Ada 2 (dua) cara pesemaian bibit nilam yaitu :
Berikut ini beberapa step penanaman setek nilam secara langsung:
1. Buatlah lubang dengan luas selebar 30 cm dan kedalam 30 cm.
2. Berikan pupuk kandang atau kompos secukupnya minimal 2 kg per lubang
dan biarkan 3-4 hari lalu disiram atau tunggu disiram hujan.
3. Tanamlah setek nilam dengan kemiringan 45 drajat kemudian tutuplah
dengan tanah sekelilingnya dan dipadatkan.
4. Tutup semua stek nilam sampai padat tampa keluar udara padatkan
sekeliling dengan tanah untuk cara tradisional bisa dengan mengunakan
botol aqua gelas tau sejenis nya dan gunakan pelindung seperti gambar.
5. Biarkan selama dua minggu kemudian setelah tumbuh akar maka
pindahkan semua tutup tadi.
9
V. PEMELIHARAAN TANAMAN
Pemupukan
Pemupukan hendaknya dilakukan dengan pedoman 5 T, yaitu tepat
jenis, tepat jumlah, tepat cara, dan tepat tempat. Bila menginginkan
pertanaman nilam oraganik dalam rangka merupakan pertanian berkelanjutan
maka pupuk yang digunakan adalah berbahan dasar alami atau di kenal pupuk
organik.
Penyulaman
Penyulaman untuk mengganti tanaman yang sudah mati atau layu akibat
kekurangan air atau terserang hama penyakit agar jumlah tanaman sesuai
target yang diinginkan.
Penyiangan
Penyiangan gulma dilakukan setelah tanaman berumur sekitar 1 bulan.
Penyiangan dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu mekanis dan kimiawi dan
pembersihan pakai mesin babat.
Pemangkasan
Pemangkasan pucuk setelah tanaman berumur 3 bula. Pemangakasan pada
cabang pucuk bagian atas.
Pembumbunan
Cabang-cabang dan dahan serta ranting yang ditinggalkan sesudah panen yang
letak dekat dengan tanah timbunan setinggi 10-15 cm.
Untuk mempertahankan air, terutama pada musim kemarau gunakan mulsa
atau alang-alang. Beri mulsa pada tanaman nilam yang baru dipanen, untuk
merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru.
10
VI. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
1. Penyakit Budok
Gejala: pertumbuhanya tertekan, tebal daun melebihi daun nilam
normal, kasar, tulang daun menebal dan keriput, bitnik bontik bakteri
yang mudah menyebar.
Cara mengatasinya:
- Menggunakan benih yang sehat dan bebas dari penyakit
- Lakukan sortasi benih sebelum penanaman,
- Pengendalian dapat dilakukan secara teknis budidaya (khususnya
pengolahan lahan, draynase yang baik)
- Lakukan pengelolaan kebun secara rutin terutama untuk
memonitoring penyakit
- Lakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang
penyakit budok;
- Bila tanaman sudah terserang, segera lakukan pencabutan dan
pembakaran tanaman yang berpenyakit.
11
- Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan
menggunakan pungsida di persemaian, dengan cara merendam stek
dalam fungsida (sebelum di semai);
- Penggunaan agen pengendalian hayati seperti Trichoderma dan
lain lain.
2. Penyakit layu bakteri
Gejala: kelayuan pada tanaman muda maupun tua, Dan dalam waktu
singkat menimbulkan kematian Tanaman secara tiba-tiba.
Cara mengatasinya:
- Hindari pengambilan stek dari tanaman yang telah tertular penyakit.
- Pengendalian dengan bahan kimia
- Pencegahan menggunakan Agen pengendalian Hayati seperti
Trichoderma dan bakteri endofit.
- Cabut langsung dan buang ditempat jauh atau di bakar.
12
3. Ulat penggulung daun
Ulat hidup dalam gulungan daun muda, sambil memakan daun yang
tumbuh, pada serangan berat hanya tinggal tulang-tulang daun saja.
Cara mengatasinya:
- Kumpulkan dan musnahkan bagian tanaman yang terserang. Lakukan
sistim monitoring yang ketat pada areal terserang untuk menghindari
terjadinya peledakan populasi. Monitoring dilakukan dengan cara
mengamati saat munculnya gejala awal kerusakan daun akibat serangan
larva stadia muda.
- Gunakan ekstrak mimba dan bioinsektisida cara ini walaupun tidak
mematikan secara langsung, tapi efektif dan tidak mencemari
lingkungan.
- Gunakan obat di toko pertanian utamakan penggunaan yang non kimia.
13
4. Belalang
Hama ini memakan daun, sehingga tanaman menjadi gundul. Pada serangan
berat, batang tanamannya dimakan dan akhirnya mati. Jenis belalang yang
banyak merusak tanaman nilam adalah belalang kayu dan belalang daun
Cara mengatasinya:
- Sanitasi lingkungan.
- Pengolahan tanah yang baik dapat membunuh telur belalang kayu
sebelum menetas.
- Menggunakan musuh alami seperti burung, kadal dll
5. Penyakit oleh Nematoda
Nematoda menyerang akar tanaman nilam, kerusakan akar
menyebabkan berkurangnya suplai air ke daun, sehingga stomata menutup,
akibatnya laju fotosintesa menurun. Gejala serangan nematoda terutama
nampak pada warna daun yang berubah menjadi kecoklatan atau kemerahan.
Nematoda parasit tanaman dapat dikendalikan dengan cara:
- Menjaga kebersihan lingkungan (sanitasi), pergiliran tanaman,
pemilihan waktu tanam, penggunaan tanaman resisten, bahan kimia, dan
secara hayati dengan menggunakan agen biotik maupun abiotic.
14
- Pemberian pupuk lengkap NPK, Urea dan TSP dengan dosis dan interval
teratur (setiap bulan).
- Pada tanah dengan pH lebih kecil dari 5.5, diberikan dolomit (CaCO3
atau MgCO3) yang mengandung 19% MgO dan CaO dengan dosis 25-
50 g/tanaman/tahun.
- Pemberian pupuk kandang (kotoran hewan, 1-2 kg/tanaman sebelum
tanam dengan tujuan untuk meningkatkan populasi mikroorganisme
antagonis (musuh alami) nematoda.
-
Pengendalian Hama pada Tanaman Nilam
Hama yang banyak menyerang tanaman nilam adalah ulat pengulung
daun, belalang dan tunggu merah Serangga hama dan penyakit selain
mempenggaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman ternyata juga mampu
menggakibatkan kematian tanaman, oleh karena itu pengendalian serangan
hama dan menyakit dalam budidaya tanaman nilam merupakan salah satu
faktor penting yang perlu dilaksanakan dengan baik. Cara pengendalian
hama/ulat-ulat tersebut terutama dengan menjaga kebersihan kebun dari
gulma, pengikisan tanaman dengan memangkas tanaman yang terserang
kemudian di kumpulkan lalu di bakar. Pengendalian dengan insektisida dan
pestisida dapat juga dilakukan antara lain dengan menggunakan ekstrak
mimba dll.
15
PANEN DAN PASCA PANEN
Lakukan panen pertama saat tanaman berumur 6-7 bulan, panen
berikutnya dilakukan dalam selang waktu 2-6 bulan sekali sampai tanaman
berumur 3 tahun. Cara panen yaitu: pangkas tanaman 15-30 cm di atas tanah
dan tinggalkan satu cabang tanaman untuk merangsang pertumbuhan tanaman
selanjutnya. Lakukan panen pada pagi hari dan atau sore hari menjelang
malam, pada siang hari sel-sel daun sedang berfotosintesa sehingga laju
pembentukan minyak berkurang, daun kurang elastis dan mudah robek. Panen
tanaman nilam dilakukan sebelum daun nilam menjadi coklat kemerahan,
karena daun yang berwarna coklat kemerahan rendemen minyak sudah
berkurang. Potong hasil pangkasan sepanjang 3-5 cm kemudian dijemur.
Jemur daun di bawah terik matahari selama 5-6 jam. Selanjutnya layukan daun
dengan cara mengering anginkan selama 2-3 hari, sampai kadar air mencapai
15%. Tebal lapisan penjemuran sekitar 50 cm dan harus dibalik 2-3 kali sehari.
Berikutnya daun siap disuling.
Penulis:
Prof. Dr. Ir. Rina Sriwati, M.Si
Faisal S.Sos.I
Editor:
Ir.Sofia Keumalasari S.P., M.P